Powered by Blogger.

12 May 2017

Tag:

Komentar - komentar Karo & Batak menganai “Apa sebab orang Karo tak mau disebut orang Batak?” Part #6


  
Karo Adalah Batak Adalah Indonesia
ORANG KARO ADALAH ORANG BATAK, ORANG BATAK ADALAH ORANG INDONESIA
Batak, pada mulanya, adalah nama yang digunakan untuk menamakan mereka yang berasal dari satu silsilah keturunan dari si Raja Batak. Orang Batak adalah seluruh marga (warga) yang merupakan keturunan langsung dari Raja Batak.
Siapa Raja Batak? Menurut Sitor Situmorang, dalam buku berjudul Toba Na Sae, Raja Batak bukan nama sosok seseorang, individu (personal). Namun, sebutan kolegial untuk menyebut seluruh keturunan Boru Deak Parunjar. Maka, Raja Batak disebutkan sebagai suatu “era Raja Batak” atau “masa Raja Batak”. Raja Batak adalah “leluhur Batak” sifatnya bukan “sosok seseorang” tetapi personifikasi untuk menyingkat rantai turun-temurun leluhur Batak yang sangat panjang.
Itulah sebabnya mengapa bagi orang Batak, Batak bermakna sebagai silsilah kekerabatan. Salah satu sejarah keterkaitan Karo dengan Toba tampak sangat nyata dan jelas dalam silsilah kekerabatan marga-marga di dalam Pomparan Ni si Raja Naiambaton (PARNA). Raja Naiambaton merupakan keturunan keenam sejak dhitung sejak masa Raja Batak. Raja Batak memperanakkan Guru Tateabulan, memperanakkan Raja Isumbaon, memperanakkan Tuan Sorimangaraja, memperanakkan Raja Asiasi, memperanakkan Sangkaisomalindang, dan memperanakkan Raja Naiambaton.
Di dalam kekerabatan PARNA, banyak sekali marga di dalamnya, mencakup beberapa marga Toba dan Karo juga, mulai dari Simbolon hingga Ginting. Sampai sekarang, adat istiadat PARNA ini masih dipegang. Pantang bagi orang Karo bermarga Ginting yang hendak menikahi seseorang bermarga Simbolon atau Sitanggang, karena adat mensyaratkan sesama anggota silsilah kekerabatan PARNA dilarang saling menikahi.
Uniknya, belakangan silsilah kekerabatan Karo bertambah kaya dengan adanya pengakuan bagi keturunan India, yaitu marga Sembiring (Si mbiring, si hitam). Orang Karo biasanya melafalkan kata-kata berawal B dengan MB (bau menjadi mbau, dan lain-lain). Maka Si Biring, atau si India, menjadi Sembiring. Uniknya lagi, Sembiring tetap boleh menyebutkan asal-usul ke-India-an, misalnya Sembiring Brahmana (dari kasta Brahmana India) atau Sembiring Pandia (dari Kerajaan Pandia di India).
Nah, asal mula tarik menarik antara Karo dan Batak ini sebenarnya adalah tarik-menarik antara identitas agama dan ras yang belakangan muncul. Bagi seseorang bermarga Ginting yang beragama muslim, misalnya, mungkin akan terdorong untuk menyebut Karo bukan termasuk keturunan leluhur Batak di Toba yang didominasi oleh pemeluk Kristiani. Begitu pula seseorang bermarga Sembiring yang beragama Kristiani pun masih terdorong untuk menyebut Karo bukan termasuk keturunan leluhur Batak di Toba karena adanya silsiha mereka yang langsung berasal dari kasta terhormat di India.
Untuk menyelesaikan konflik tarik-menarik identitas ini, ada dua simpulan yang bisa ditarik untuk mengurai benang kusut permasalahan.
Pertama, Karo, apapun marganya, adalah silsilah kekerabatan Batak yang bersifat terbuka (seperti yang ditulis oleh Sitor Situmorang dalam Toba Na Sae). Artinya, marga Sembiring, yang berasal dari keturunan kasta brahmana dan ksatria dari India. sudah tergabung dalam silsilah kekerabatan Batak karena siapa saja yang termasuk dalam silsilah kekerabatan Karo adalah bagian dari Batak (beberapa marga Sembiring tersebut bukan keturunan biologis Raja Batak) .
Kedua, Batak, apapun marganya, adalah identitas kesukuan yang bersifat mendukung fondasi keindonesiaan. Artinya, Batak, yang semula merupakan identitas marga (warga) suatu bangsa keturunan Raja Batak, telah ditempatkan sebagai fondasi dari suatu bangsa baru bernama Indonesia. Dengan begini, orang Batak dan Orang Bali adalah saudara, orang Jawa dan orang Batak adalah saudara. Semuanya adalah orang Indonesia.
Bukankah Boru Deak Parujar adalah putri bungsu dari Batara Guru dan Batara Guru sendiri merupakan saudara kandung dari Semar, mbahnya orang Jawa? Dengan begitu, secara silsilah mitologis, orang Batak adalah satu kekerabatan dengan orang Jawa.
Bagi para peneliti asing maupun lokal, belajarlah yang giat agar mampu memahami sejarah mitologi dan antropologi. Kita sama-sama belajar.

2.       charles sitepu
Setelah saya membaca setiap komen di situs ini jelas kelihatan betapa keras kepalanya orang batak sama karo betapa bangganya sama sukunya masing2betapa pintar2 cara argumenya,tetapi mereka tidak tau hak WARISAN ya hilang dari tangan ya sangkin jugulnya,buktinya sumut 1 dipinpin oleh jawa,woii pengaruh devide et impora belanda masih berlaku di sumut,klu karo pintar knapa tidak bisa pinpin sumut,toba simalungun pakpak mandailing angkola??mana katanya orang pintar kaya jago omong saling mengayomi keras sangt mgrgai leluhur pret lah buktinya sumutpun berlalu dari tgan kelian,ga ada guna berdebat yg penting bersatu beagama percaya Tuhan kerja keras,itu intinya,alangkah indahnya banyak teman sahabat saudara,kapan lagi kita bisa kasi yg terbaik ato meminpin indonesia ini,jangn mau dihasut ,saya sgt miris diperantauan yg pinpin sumut orang jawa ,bujur ras mejuah juah,aku bangga jadi orang karo
o    Yhosi evrananta
Halo, penyebaran kata batak itu beriringan dengan misionaris injil, jadi maklum kalo muslim itu gak mau ngaku karna misionaris itu, dan knapa karo yg mengakui dia batak itu karna tertera pada gereja mereka… Dan asalusul gereja karo pake batak itu adalah pendahulu pendeta batak dan karo mereka belajar pada misionaris injil yg sama…

3.       beni
btul …. saya sangat memang setuju bawa karo itu bukan batak,,, karena semua dari bahasa , pakaian tidak sama.. saya termasuk bukan orang karo tapi saya dari kecil sudah tinggal di kabanjahe dan saya orang jawa,,,,
dan saya lihat bawa karo ini di memang sudah mulai di jajah oleh batak… baik dari lagu karo di ubah menjadi batak, baik dari tempat tinggal di tanah karo…. sudah mulai banyak orang batak…. dan karo mulai sudah di kecil kan oleh orang batak….
dan satu lagi untuk orang karo. waktu kemarin pak sby datang ke tanah karo… di ucap kan kata pertama lo tau apa horas.. kenapa bukan mejuah juah… sewatu itu saya heran mendengar nya,,,,,,, dari sini kita bisa kita lihat bawa karo ini sudah di kecil kan oleh batak
lo cam kan itu bagi orang karo semua . jangan sempat budaya kam juga di ubah menjadi batak,,,,,
saya cinta tanah karo .. lagu karo ,,, budaya karo ,,, tarian karo. musik karo dan semua tentang karo saya cinta ,,,, jangan sempat itu hilang semua ,,,,,, saya hanya me informasikan saja….
salam bagi orang karo
mejuah- juah

4.       bayo lubis
BATAK MEMANG INDENTITAS KABUR???
aku bunkanya pakar sejarah..tapi menurutku suku batak itu tidak ada yang ada suku karo ,toba,pakpak, simalungun dan mandailing…seperti suku toba dan mandailin sudah tertulis dalam catatan kitab majapahit abad 13 dan dalam catatan sejarah abad tersebut tidak ada yang namanya batak…istilah batak muncul ketika bangsa asing mulai masuk ke sumatara bagian utara sekitar abd 16-17 (misionaris dan kolonialis) selilsih 300 tahun dari cacatan majapahit…
semestinya kesemua suku yang di klaim dengan nama batak ini kompak dan menghapus istilah batak dan masing2 kembali ke indentitas suku asli masing2…batak itu hanya suku boneka buatan asing untuk kepentigan misi mereka..akibanya kita terpecah dan saling sentimen..karena banyak orang batak tidak suka di bilang batak~..jujur aku juga ga suka di bilang batak ..kuping aku lebih yaman kalau di bilang mandailing..karena itu memang suku aku…

5.       benson saragih
Sentabi man kam kerina, sattabi hubani nasiam haganup, sattabi di hamu saluhutna……. Membaca debat diatas, sangat menyakitkan hati, karena yang terlihat adalah kekurangan kita, daripada kelebihan kita. Saya tidak pro kemana pun.
Saya asli Marga Manihuruk, kakek moyang kami merantau ke Simalungun. Oppung saya dilahirkan Oleh Boru Purba Tamsar, kemudian menikah dengan boru Lingga dari pak pak, dimana Tutua (oppung boru) kami dilahirkan oleh Purba pakpak (asli simalungun). Ibu saya bermarga Lingga yang dilahirkan oleh tutua kami bermarga Purba tanjun. Saya menikah dengan Putri dari singalor lau, bermarga Pinem bebere sembiring sinulaki.
Saya sendiri, meski bermarga Manihuruk, dikampung halaman saya Simpang haranggaol, kami bermargakan Saragih. Dan kami “Manghagoluhkon adat ni simalungun”. Segala adat dan budaya, kami adalah simalungun.
Darah dari Oppung kami yang merantau ke Tanah simalungun, juga ada pada diri saya. Saya sudah merantau sejak tahun 1993 sd sekarang. Mulai dari Riau, Padang, Kalbar dan Kalteng.
Jujur saya akui, di perantauan, terutama di kalimantan, tidak dikenal suku Toba, simalungun, karo, pak pak dsb, yang mereka kenal adalah Batak. Setiap suku diatas mereka sebut orang batak.
Yang saya tekankan, mengapa kita menekankan perbedaan antara suku suku kita? Jujur diakui bila dipandang secara menyeluruh dan dari luar (pandangan suku diluar batak) antara Toba, simalungun, karo, pak pak, mandailing, adalah hanya ada segelintir perbedaan didalam segunung persamaan. Falsafah dasar hidup yg sama; dalihan na tolu, Tolu sahundulan, Rakut sitelu (meski di ucapkan dalam bahasa yg berbeda, tapi polanya sama persis, tidak ada perbedaan)
Tak perduli kita mengklaim kita adalah batak, atau bukan batak, tak bisa kita pungkiri, di perantauan kita tetap dikenal orang sebagai Orang Batak yang tak pernah habis akal, gigih, pekerja keras.
Saya yg tinggal di daerah etnis Dayak, sering sekali dalam nasehat orang dayak mereka menekankan sifat batak yg harus di tiru.
Lain dengan kita yg selalu menonjolkan perbedaan kita, Lain jg dengan suku dayak. Mari kita belajar dari Kekuatan Persatuan suku dayak…
Siapa yang yg tidak ketar ketir mendengar DAD (Dewan adat dayak), BATAMAD (barisan pertahanan Masyarakat adat dayak). DAD berhasil mendenda secara Adat seorang menteri akibat ngomong sembarangan terhadap adat dayak. BATAMAD? Tanya aja FPI takut sama siapa di Palangkaraya, dan dibuat tak berkutik. Itulah kekuatan persatuan dayak.
Nah, kalau kita bertanya, apakah dayak itu satu???? Jawab nya: Daong, lang, Labow… Suku dayak tersebar mulai dari Kalbar, kalteng, Kalsel, Kaltim sampai Kaltara. Sukunya bagaimana? Banyak etnisnya… Bahasanya: sama sekali tidak sama. Falsafah dasar kehidupan juga tidak sama.Rumah adatnya tidak sama Wilayah mereka, tentu saja lebih luas, barangkali 50 kali lebih luas dibanding Tanah Toba, karo, simalungun, pak pak. Tetapi satu hal yang harus kita teladani dari mereka: Mereka Tetap Satu : SUKU DAYAK…. Secara historis, antar Suku jg sering terjadi konflik berdarah, sampai akhirnya Kesepakatan Tumbang Anoi yg mempersatukan seluruh suku dayak. Satu yang harus kita contoh, rasa persatuan mereka, Ketika muncul konflik (maaf: saya hanya memandang dari segi rasa persamaan mereka tanpa membahas arah dan tujuan konflik) dayak vs Madura. Semua dayak bergerak dikalteng dan kalbar. Ada dayak bahe, dayak bengkayang, daya ngaju, dayak ahe, dayak Kahayan, dayak Katingan yg notabene tidak saling mengerti bahasa satu sama lain, semua merasa satu dan angkat senjata menghadapi musuh yg mereka anggap musuh bersama.
Disamping itu, kekuatan hukum adat mereka sangat kuat, sehingga di kalimantan, hukum kearifan Lokal digunakan untuk menyelesaikan persoalan persoalan. Hukum positif di nomor duakan. Hak hak ulayat jg diakui oleh negara.
Bagaimana denga persatuan kita yang mengaku atau yg dipaksa mengaku jadi orang batak??? Apakah DAD versi batak bisa lahir? Ataukah BATAMAD versi batak bisa lahir? Yang pada akhirnya bisa membuat “Kita” jadi raja di Tanah kita sendiri.
Memang, Membaca histori dari bangsa batak, banyak lembaran hitam: Pembantaian kaum terpelajar satu generasi simalungun (termasuk raja raja penguasa simalungun) yang dibunuh oleh BHL dari batak toba. Pembantaian jg di silima kuta yg juga memakan korban dari suku karo.
Nah, kita banding denga suku dayak, apakah sesama etnik dayak tidak memiliki lembaran hitam?? Wah, lebih banyak di mereka…
Saya sarankan: hentikan saling ejek dan saling hina, Persamaan antara kita lebih banyak. Perbedaan kita memang ada, tetapi hanya sedikit.
Sonai ma jolo di hita saluhutna. Sibar sonai ma lobei hu batta ganup, horas horas, mejuah juah man kita kerina
Benson saragih manihuruk bre Lingga. Si ndaharaken Rellyanna Pinem…

6.       raja asean sumbayak
@jendral israel simatupang: makanya banyaklah membaca (hauslah akan informasi) dari suku2 lain dan gunakan akal sehatmu. Jgn hanya paradigmamu saja yang selalu ngotot diingatanmu. Satu hari saja, mungkin mukamu berbeda dengan hari2 sebelum atau sesudahnya. Mukamu mungkin sudah sangat berbeda dengan muka keturunanmu sebelum-sebelumnya. Apalagi Simalungun, jauh lebih kompleks daripada mukamu.
Kehidupan ini pun juga demikian dinamis, selalu berubah, saling pengaruh-mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya. Jangan memandang hanya dari satu peristiwa. Harus dpt dilihat ke belakang, sekarang dan yg akan datang, tergantung dari waktu mana kita mulai berbicara. Setelah itu, cobalah dikonfirmasi catatan sejarah kita dengan sejarah tetangga yang lainnya. Karena, sejarah kita juga berjalan seiringan dengan sejarah suku yang lainnya. Kecuali, orang batak pada zaman itu sudah bisa memanipulasi sang waktu. Bukan semau hati buat sejarah sendiri. Jelaslah, zaman sekarang ini Simalungun hampir mirip dengan Batak (yg malu ngaku toba). Derasnya arus perpindahan kalangan penduduk pribumi maupun imigran dari kawasan Asia seperti Cina, India, Arab dan imigran dari kawasan Asia Tenggara ke tanah simalungun dan melayu deli khususnya orang2 batak (toba) dan jawa untuk menjadi pekerja kasar diperkebunan2 yang dikelola kolonial belanda pada pertengahan abad ke-19 menjadi awal mula suksesnya mereka2 ditanah perantauan khususnya orang batak. Diperparah dengan peristiwa revolusi berdarah di tanah simalungun khususnya, dan di wilayah kerajaan2/kesultanan2 yang ada di sumatera timur umumnya. Sehingga, hal itu menjadikan simalungun malu mengakui identitasnya sebagai suku simalungun karena dianggap kaum feodal pada masa itu.
Ingat, prinsip tolu sahundulan juga dimiliki suku-suku lainnya diIndonesia ini, misalnya: Melayu, Aceh, Dayak, bahkan suku tertentu yang ada di Irian sana. Penamanya aja yg berbeda, namun prinsipnya sama. Tau dari mana? Makanya, hauslah akan informasi dari suku2 tetangga, kawan….. Jangan hanya bergitar, mabuk-mabukan, kelahi di kedai tuak sana. Namamu keren banget tuh “jenderal israel simatupang” tapi sayangnya ternyata jauh dari kenyataan. Andapun terlihat tidak begitu menikmati untuk mempelajari sejarah, tampak dari cara-cara anda memberikan argumen ataupun contoh yang tak masuk akal. Apa hubungan antara leluhur simalungun zaman dahulu dengan THAKSIN SHINAWATRA? Cukup aneh bukan….??? Thaksin sangat bau kencur dan bahkan masih ramalan para malaikat dibandingkan dengan zaman permulaan nenek moyang simalungun terdampar ke nusantara ini. Kacamata waktu yang anda pakai zaman sekarang, namun memaksa membandingkan kehidupan Simalungun di zaman dahulu. Wajar aja tak memberikan jawaban yang tepat.
Budaya-budaya dan kepercayaan-kepercayaan yang asli dari simalungun sangat mirip dengan yang ada di India timur, ataupun suku-suku pribumi yang hidup diperbatasan antara negara thailand, laos dan kamboja. Sangatlah tidak efisien klu dijelaskan di sini. Andaipun anda ingin penjelasan lebih dalam, bergabunglah dengan forum2 sejarah nasional, forum pakar2 sejarah di dunia maya dari tiap-tiap suku yang ada di sumatera utara ini khususnya, untuk dapat berdiskusi. Klu anda masih juga ngotot mengatakan simalungun sekarang sama dengan batak, ya terserah anda. Saya kembalikan semuanya pada anda2 sekalian.
Namun, meskipun kita semua berbeda-beda, baik itu Karo, Simalungun, Toba (lebih bangga dikatakan batak), Mandailing, Angkola, Melayu Deli/Asahan/Labuhan batu/Langkat, Nias, Pak-pak, Dairi, Hurlang, namun kita semua sama-sama saudara. Saudara seperjuangan dalam wadah NKRI. Biarlah perbedaan itu memperkaya identitas kita, dan karena perbedaan itulah yang menjadikan kita satu/ bersaudara.

7.       raja asean sumbayak
@jenderal israel simatupang:
Nama asli saya Raja Asean Saragih, lahir di Bagan batu, dekat dengan desa bagan siapi-api atau bagan sinembah (prov riau) tepatnya tahun 1988, putra simalungun asli dari Raya. Cek lgs ke data kependudukan setempat klu tidak percaya. Oleh sebab itu, mohon kiranya jangan mengubah nama saya menjadi raja asia tenggara. Saya sudah sangat terbuka untuk forum ini alias tanpa nama samaran. Klu anda mau menyantau/nyantet, pelet, dll saya persilakan klu terasa sudah kesal. Tp saya sarankan, klu ilmu masih nanggung jgnlah dicoba-coba. Mau menginvasi dlm bentuk diskusi dan sukmahpun saya jabani dengan sangat baik. “Anggo seng imbangmu atap lang asup, ulang lah namin ilajou, dahkam. Sisoya-soya holi goluh mai. Dingat lah hata kai anggo lang bam huparseda…..!!”
Anda santun, saya juga santun. Anda kurang santun, akan saya  sesuai situasi dan kondisi saya.
mangido maaf ma anggo sonai hubamu lae RAJA ASEAN SARAGIH SUMBAYAK.. lang raja asia tenggara hape tene.. he he.. na salah sahap ma au ijai lae.. salam damai peace..

8.       Sitohang Lontung
Horas Horas Horas…….Lihat margaku.
Meluruskan pemahaman (Riski Danari Ginting) He says; tapi kalau ditanya suku apa? orang toba harus jawab suku TOBA. gitu juga org KARO jawab sukunya KARO. karena TIDAK ADA SUKU BATAK. Stop!!! Agar tidak bias dipahami etnic lain seindonesia serta khusus nya pengunjung blog ini, Disini saya meluruskan “Batak” adalah suku/kelompok sosial yg mendiami kaki bukit gunung toba purba sejak ribuan tahun lampau. Sedang kan Toba bukan lah suku seperti Kutipan diatas. Harap di note, (Toba adalah nama gunung), yaitu Gunung toba purba. Gunung Toba sampai saat ini masih memiliki anak gunung, bahkan Gunung Sinabung yang beberapa waktu lalu meletus dan Gunung Sibayak, merupakan anak dari Gunung Toba.Sedangkan samosir adalah pulau yg terbentuk akibat letusan dahsyatnya. Maka arti penyampaian sangat penting agar tidak bias. Dan perlu diingat agar tidak memisahkan antara kata Toba & Samosir krn kedua kata tersebut lah awal mula kami suku batak. (Latar Sifat Batak) Aku bangga menyandang predikat dari kacamata masyarakat tentang suku kami batak dijaman modern ini. Karena memang nyata, batak mendominasi kesuksesan di tanah sendiri maupun dirantau dari berbagai sudut ekonomi. Tak ayal memang fakta itu terjadi. Kami smart, sesuai dari arti kata “batak” adalah “banyak taktik” bnyk akal, ide cemerlang, kedepankan insting dlm hal apapun. Mampu beda/ lain pendirian/ pendapat, mampu bekerja sendiri tdk perlu di perintah.sportif menerima relevansinya. Batak tdk bisa diatur saya akui itu, 15 tahun memimpin driver di perusahaan logistik hingga saat ini yg nama nya org batak memang sulit diatur, tp plg konsisten dgn komitmen. Tidak pernah kontak fisik sesama batak, selesai semua persoalan di lapo(kedai kopi/tuak).
Yang disampaikan oleh Simatupang Brother(Lontung),
Ada benarnya dan ada yg tdk tepat dalam menyampaikan maklumat dalam blog ini. Namun kembali kemampuan para pengunjung blog menyimak dan menyaring pesan yg tersirat dari awal diskusi ini ditanggapi dgn kutipan2 ahli sejarah. Kudukung simatupang di positive nai, alani ho geor sude na halak on.(kudukung simatupang hal positve nya, gara-gara dia ribut semua orang di blog ini).
Saya lbh sepakat kepada Erliana Siregar, Jk dianalisis dari tingkat kekerabatan bahasanya yang diturunkan dari bahasa protoaustronesia bahasa mandailing, toba,karo,angkola,simalungun itu diturunkan dari satu bahasa asal yaitu bahasa proto batak.jd dari semua hasil analisis mereka itu serumpun batak.jd tak lah ada alasan mereka tak mau dikatakan batak.seharusnya hanya orang2 awam sajalah yg berpikiran hal spt itu. Berpedoman lah bahwa sejarah adalah jatidiri kita sesungguhnya, nilailah sejarah secara historical perjalanan nya bukan dengan memberi arti. karena tidak cukup analisys yg berarti dalam menguak sejarah itu sendiri(Kutipan Saya).

9.       IRWANTA tARIGAN
karo hebar, batak hebat, semua keras kepala dan semua pecemburu. kalo kita hanya bisa berdebat di blog ini, apa yang kita dapatkan sebagai orang asli sumut. lihat aja pemimpin sumut sekarang, apakah kita tidak malu? buktikan kehebatan karo dan batak itu di dalam realita dan bukan di dalam pertengkarang yang menghabiskan waktu. Tuhan memberkati kita semua.

10.   arios
Mohon maaf, saya cuma mau kritk kalimat salah ini, dari salah satu komentator di wacana ini :
” Di stempel Sisingamangaraja, hanya ada kalimat ”Ahu Raja Toba”, bukan ”Ahu Raja Batak”. Dengan demikian, “Batak” adalah identitas kabur (evasive identity). Sebab orang Batak sendiri (bernama Sisingamangaraja) tak pernah menyebut dirinya “Batak”.”
Anda tahu tidak makna & sejarah Sisingamangara. Kalimat “Ahu Raja Toba” maksudnya Sisingamangaraja itu memang betul beliau Raja Toba, bukan Raja Batak. Jadi bukan berarti beliau tidak mengakui dirinya batak seperti apa yang anda katakan. Tolong cari tahu dulu fakta, baru berkomentar. Jgn asal!

11.   Ratna Siregar
Saya boru regar, bapa bilang kami siregar dongoran. Saya juga tak begitu paham tentang suku batak. Yg saya tau cuma, saya batak dan bapa juga bilang batak mandailing. Opung godang saya Siregar dan opung menek saya boru Lubis. 🙂
iya to.. benar itu.. siregar asalnya dari muara taput,ada tugu siregar di sana,jadi simatupang siregar dan aritonang asalnya dari muara atau kec muara.. dulunya mereka bertiga adalah saudara sekandung yg sepakat pindah dari samosir ke p sumatra yaitu huta muara kec muara.. oppung kita itulah yg membuka huta itu.. sampai sekarang masih ketiga marga tsbt yg mendominasi di muara..

12.   Enny
Sudah sangat panjang rupanya perdebatan ini. sepanjang sejarah batak itu sendiri.

13.   Amani Atma
VARIASI GENETIK SUKU BATAK YANG TINGGAL DI KOTA DENPASAR DAN KABUPATEN BADUNG BERDASARKAN TIGA LOKUS MIKROSATELIT DNA AUTOSOM
INTISARI: Penelitian tentang variasi genetik menggunakan tiga lokus mikrosatelit DNA D2S1338, D13S317 dan D16S539 dilakukan untuk memperoleh ragam alel pada 76 sampel suku Batak yang tidak berhubungan keluarga yang tinggal di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Sampel DNA diektraksi dari darah menggunakan metode fenol-khloroform dan presipitasi etanol. Amplifikasi DNA dilakukan dengan menggunakan metode PCR (SuperMix, Invitrogen). Ditemukan sebanyak 14 alel pada lokus D2S1338, 10 alel pada lokus D13S317 dan 8 alel pada lokus D16S539. Ketiga lokus menunjukkan keragaman genetik yang tinggi baik pada masing-masing lokus maupun pada pada masing-masing sub-suku Batak dengan keragaman genetik sebesar 0,8637 pada sub-suku Batak Toba, 0,7314 pada sub-suku Batak Karo dan 0,7692 pada sub-suku Batak Simalungun.
Kata kunci: DNA mikrosatelit, Suku Batak, keragaman genetik, frekuensi alel, heterozigositas
Penulis: YOSSY CAROLINA UNADI, INNA NARAYANI, I KETUT JUNITHA


14.   Yhosi evrananta
Kalo tentang kota medan silahkan dibaca search “sigara mata” disitu ada asal muasal kota medan .. Dan untuk karo itu sama atau tidak dengan batak mutlak beda, yang membuat persamaan persamaan yg muncul koment diatas adalah berasal dari misionaris injil dari luar (saya gak tau persis dari negara mana) dan dari etnik karo, toba, dan manado ketiga etnik itu mengikuti misionaris tersebut dan digolongkan menjadi batak , oleh sebab itu dari tanah karo ada GBKP, untuk manado orang asli kelahiran manado pun ada yg mengaku batak karna, pertemuan misionaris injil tsb ..



About willem andrea

Hi, My Name is Hafeez. I am a webdesigner, blogspot developer and UI designer. I am a certified Themeforest top contributor and popular at JavaScript engineers. We have a team of professinal programmers, developers work together and make unique blogger templates.