Inilah 7 Fakta Mengerikan Tentang Pemanasan Global, Salah Satu Penyebab Kiamat ! - KARO GAUL

Karo Gokil

Post Top Ad

24 June 2017

Inilah 7 Fakta Mengerikan Tentang Pemanasan Global, Salah Satu Penyebab Kiamat !

Ilustrasi
Riong Medan - Kita mungkin tak sadar, namun kita sedang menjalani hari-hari dengan iklim yang jauh lebih panas ketimbang seharusnya. Dalam hal ini, pemanasan global telah membawa Bumi kita ke dampak yang mengancam generasi mendatang.
Bahkan tak hanya di masa depan, banyak dampak di masa sekarang yang sudah kita lihat. Ada dampak langsung pada kacaunya cuaca, hilangnya habitat satwa, dan bahkan kemunculan-kemunculan fenomena aneh.
Bahkan, ilmuwan memprediksi bahwa adanya perubahan iklim merupakan salah satu penyebab kiamat.
Berikut berbagai fakta menakutkan di balik fenomena perubahan iklim.

1. Salah satu penyebab kiamat
Banyak sekali penelitian dan prediksi para ilmuwan tentang bagaimana kiamat nantinya akan terjadi. Kebanyakan melibatkan kehancuran Bumi karena bersinggungan dengan benda langit, dan akan terjadi dalam jutaan tahun mendatang. Namun para ilmuwan juga punya prediksi akan kiamat di mana hal tersebut akan terjadi dalam waktu dekat.
Melansir Daily Mail, ada 3 prediksi kiamat yang bisa terjadi sebentar lagi. Penyebab pertama adalah pandemi yang penyebarannya mungkin bisa tak terbendung, kedua adalah perang nuklir, ketiga adalah pemanasan global.

2. Hujan tetap turun di musim kemarau
Ternyata hujan yang terus turun di musim kemarau di negara tropis seperti Indonesia, bukanlah sebuah keanehan. Karena penyebabnya hanya satu, yakni perubahan iklim.
dilansir dari Mashable yang mengutip penelitian terbaru yang dilakukan NASA, permukaan Bumi yang makin panas dan naiknya permukaan laut akibat ulah manusia menyebabkan hujan makin banyak turun di daerah tropis.
Menurut Hui Su, ilmuwan dari Jet Propulsion Laboratory milik NASA, hal ini ada kaitannya dengan awan. Dari observasi NASA baru-baru ini menunjukkan bahwa awan di daerah tropis akan makin menyusut dalam beberapa dekade ke depan. Meski kita berasumsi bahwa awan yang lebih sedikit setara dengan presipitasi yang sedikit pula, ternyata itu salah.
Awan tinggi ini ternyata menjebak panas di atmosfer, yang membantu menyeimbangkan energi masuk matahari dengan energi panas yang berasal dari Bumi. Dengan lebih sedikitnya awan yang menjebak panas di sekitar, udara di atas daerah tropis diperkirakan akan jadi lebih dingin, dan udara yang lebih dingin berarti lebih tidak stabil. Karena ini, hujan lebih banyak turun.
Fenomena ini merupakan 'kekuatan' yang berlawanan. Pasalnya kenaikan curah hujan di daerah tropis memang terjadi karena hal tersebut diharapkan bisa menghangatkan atmosfer. Hal ini dikarenakan atmosfer bagian atas yang sangat dingin, dan ini membuat uap air berubah menjadi partikel es dan menyebabkan energi panas lepas dan menghangatkan atmosfer. Hal ini dikenal sebagai pelepasan panas laten.
Menurut NASA, zona di mana awan akan makin sedikit dan menyebabkan curah hujan sepanjang tahun makin banyak, makin lama akan makin melebar. Zona ini berpusat di khatulistiwa, dan berdampak langsung pada negara-negara kecil di kawasan tropis.

3. Trump keluar dari Perjanjian Paris, emisi akan makin tinggi
Amerika Serikat lewat sang Presiden, Donald Trump, baru saja mengejutkan dunia karena keluar dari perjanjian Paris. Perjanjian tersebut merupakan perjanjian paling besar soal perubahan iklim.
Perjanjian Paris sendiri adalah perjanjian di 2015 yang diikuti hampir 200 negara untuk melawan pemanasan global dengan mereduksi emisi karbon. Ketika itu, Amerika Serikat ikut menandatangani perjanjian tersebut lewat Obama.
Dari sisi sains, dilansir dari Cnet, para ilmuwan menyebut bahwa perubahan iklim akan makin maksimal pasca keluarnya Amerika Serikat dari perjanjian ini. Pasalnya, Amerika Serikat adalah negara dengan industri konvensional tertinggi, yang 'membakar' banyak sekali energi yang menghasilkan emisi global yang juga tinggi.
Trump sendiri menganggap perjanjian tersebut merugikan Amerika Serikat pasalnya banyak pekerjaan yang hilang. Tentu saja, pekerjaan di tambang-tambang sumber energi konvensional telah hilang karena tujuan untuk melawan pemanasan global. Selain itu, kini teknologi sudah menggunakan energi yang dapat diperbarui seperti solar dan angin.
Karena keluarnya AS, kebijakan terhadap perusahaan energi yang menghasilkan emisi tinggi seperti batu bara, tak lagi ketat. Bumi kita makin terancam.

4. Banyak yang tak percaya pemanasan global
Terkait soal Trump yang keluar dari perjanjian Paris, Trump merupakan salah satu orang yang tak percaya adanya pemanasan global. Trump adalah satu dari sekian banyak orang yang menganggap pemanasan global merupakan teori konspirasi untuk mengalokasikan banyak dana.
Yang paling konyol, Donald Trump menganggap bahwa pemanasan global hanyalah teori konspirasi yang dilakukan oleh dan untuk China, agar mereka tak kalah dalam berbagai industri dari Amerika Serikat.
Diwawancarai Bill O'Reilly di stasiun televisi Fox News, Donald Trump menyebut kunjungan Obama ke Paris dalam rangka Konferensi Pemanasan Global PBB, adalah hal yang 'konyol'. Menurutnya banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan, seperti memberantas ISIS.
Ditanya soal kebijakan yang harus dibuat pemerintah terkait perubahan iklim, Donald Trump justru berkata bahwa perubahan iklim adalah hal yang 'biasa'. Menurutnya, naik turunnya temperatur Bumi sudah terjadi selama jutaan tahun. Dirinya bahkan mengklaim diri mendapat banyak sekali penghargaan terkait lingkungan, hanya dengan percaya dengan kebersihan air dan kebersihan udara. Plus, pemanasan global dianggap sebagai 'penipuan' untuk menjerat banyak sekali uang.
Donald Trump juga tak terlihat ingin membuat kebijakan tentang pengalokasian dana untuk energi alternatif, karena hal tersebut tak menguntungkan dalan jangka waktu pendek. Hal ini tentu akan membuat sumber daya yang tak dapat diperbaharui akan dieksploitasi dengan lebih parah.

5. Sudah ada yang punah karena pemanasan global
ternyata pemanasan global telah merenggut satu spesies mamalia dari Australia. Spesies mamalia yang mendiami sebuah pulau di Great Barrier Reef ini bernama Bramble Cay melomy, seekor binatang sebesar tikus kecil dengan ekor panjang, cambang, serta bulu merah kecokelatan. Bramble Cay adalah binatang asli Great Barrier Reef, yang mendiami pulau kecil di Selat Torres antara Queensland Australia dan Papua Nugini. Punahnya Bramble Cay Melomy pun disebut-sebut sebagai kepunahan mamalia pertama yang diakibatkan oleh pemanasan global.
Meskipun Melomy ini adalah binatang yang sangat banyak di tahun 1970an silam, populasi mereka menyusut secara cepat semenjak beberapa dekade terakhir. Pada akhirnya, Department of Environment Australia memasukkan Melomy ke dalam daftar spesies yang terancam punah. Bahkan, Melomy terakhir terlihat di pulau tersebut pada 2009 silam.
Dilansir dari New York Times, Luke Leung, seorang ilmuwan dan peneliti dari University of Queensland menyebutkan bahwa faktor paling utama dari punahnya Bramble Cat adalah air pasang dan makin bergelombangnya air laut. Air laut ini bahkan mampu masuk hingga tengah pulau yang memang kecil, dan mengancam habitat dari Bramble Cay melomy.
Rumah-rumah dari Bramble Cay seperti gua batu kecil serta celah-celah di tanah maupun batu, perlahan mulai menghilang. Hal ini juga memperburuk permasalahan makanan, karena Melomy yang merupakan herbivora harus berkompetisi dengan burung laut serta penyu.
Naiknya permukaan air laut karena pemanasan global, juga mengancam banyak sekali hewan yang bergantung kepada air laut. Di antaranya adalah Beruang Kutub, penyu, Paus Sikat, Serta Pinguin Galapagos. Meski beberapa hewan tersebut dalam keadaan kritis, banyak dari hewan-hewan tersebut berada dalam naungan para penyelamat lingkungan.

6. Bumi berada pada temperatur tertinggi sepanjang sejarah
Bulan Februari tahun lalu, ternyata memecahkan rekor suhu Bumi terpanas.
Dilansir dari Daily Mail, NASA merilis sebuah data yang menunjukkan temperatur rata-rata permukaan global. Pada Februari tahun lalu, temperatur rata-ratanya 1,35 derajat Celcius lebih tinggi daripada temperatur rata-rata bulanan pada tahun 1951 hingga 1980. Ini adalah temperatur tertinggi dalam sejarah manusia. Bahkan para ilmuwan menganggap hal ini sebagai 'keadaan iklim darurat.'
Keadaan ini memecahkan rekor yang terjadi hanya di bulan sebelumnya. Pada Januari 2016, temperatur rata-rata berada 1,13 derajat Celcius lebih tinggi dari temperatur rata-rata, menurut hasil data yang disediakan oleh Goddard Institute for Space Studies milik NASA.
Laporan dari NASA ini adalah laporan yang sangat penting bagi berlangsungnya iklim di Bumi. Para analis dari Weather Underground, Jeff Masters dan Bob Henson bahkan menyatakan bahwa laporan ini mengejutkan layaknya bom.
Sang analis juga menyatakan bahwa 'Pemanasan Arktik' adalah penyebab utama hal ini terjadi.
"Seperti ditunjukkan oleh tanda merah gelap dari laporan tersebut, sebagian besar dari Alaska, Kanada, Eropa timur, Rusia, serta samudera Arktik, berada pada temperatur 4.0 derajat Celcius lebih tinggi dari rata-rata," ungkap Masters dan Henson.
NASA pun juga mengamini bahwa lautan Arktik yang sebenarnya adalah lautan es, telah terekam satelit mengalami kenaikan permukaan, dan pertumbuhan es nya sangatlah lambat.
Di Februari ini kenaikan es rata-rata hanya 14,22 juta kilometer persegi. Ini adalah angka paling rendah di bulan Februari sepanjang satelit pernah merekam. Ini lebih rendah sejauh 1,16 juta kilometer persegi di bawah angka rata-rata bulanan tahun 1981 hingga 2010.
Tentu jika lautan Arktik yang sangat penting bagi keberlangsungan Bumi agar tak tenggelam, justru meleleh karena makin tahun Bumi makin panas, tenggelamnya umat manusia merupakan bom waktu bagi kita semua.

7. Perekonomian bisa turun
Suhu udara yang kian memanas akibat perubahan iklim diperkirakan bakal menurunkan produktivitas pekerja di berbagai negara dan merugikan ekonomi global lebih dari USD 2 triliun pada 2030. Demikian hasil studi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Seperti diberitakan Reuters, peningkatan suhu udara telah berdampak pada penurunan jam kerja tahunan hingga 20 persen di Asia Tenggara. Pada 2050, diperkirakan meningkat dua kali lipat seiring pendalaman efek perubahan iklim.
Lebih jauh diungkapkan, sebanyak 43 negara bakal mengalami penurunan ekonomi akibat peningkatan suhu udara. Di antaranya, Indonesia yang diperkirakan mengalami kemerosotan produk domestik bruto (PDB), atau total nilai produksi barang dan jasa, sekitar 6 persen pada 2030.
Studi lain menemukan, sepanjang 1980-2010, sebanyak 2,1 juta orang di dunia meninggal akibat 21 ribu bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dan lainnya. Karena hal tersebut, kerugian yang ditimbulkan mencapai USD 4 triliun atau setara total nilai produksi barang dan jasa terkini Jerman. (Merdeka)


Post a Comment

Post Top Ad