Tanaman Jagung di Karo Rusak Akibat Kemarau Panjang - KARO GAUL

Karo Gokil

Post Top Ad

17 June 2017

Tanaman Jagung di Karo Rusak Akibat Kemarau Panjang


Riong Medan - Musim Kemarau yang melanda Kabupaten Karo menyebabkan lima kecamatan sentra penghasil jagung terancam gagal panen. Lima kecamatan yakni, Kecamatan Juhar, Tigabinanga, Mardingding, Lau Baleng serta Kuta Buluh Simole.

Tanaman jagung yang rusak (puso) adalah yang ditanam antara akhir bulan Februari dan awal Maret. Akibat tidak mendapat pasokan air yang cukup, tanaman jagung tidak mengeluarkan bunga untuk pembuahan. Meskipun asupan pupuk yang diberikan terbilang mencukupi.

“Kira – kira terdapat 7 ribu hektar di lima kecamatan ini yang tanaman jagungnya rusak. Petani megalami kerugian yang cukup besar akibat kemarau ini,” ungkap Petani Jagung Tigabinanga, Amin Sebayang, Kamis (17/6/2017).

Diutarakannya, kondisi kemarau berkepanjangan menyebabkan batang jagung tampak mengerdil, daunnya menguncup keatas dan perlahan layu (mati). Hal ini disebabkan selama 3 bulan terakhir curah hujan sangat minim. Bahkan dapat dikatakan tidak ada sama sekali.

Untuk 1 hektar (ha) pertanaman jagung, menurut Amin, dibutuhkan modal 9 hingga sepuluh juta rupiah. Modal tersebut meliputi olah tanah (tracktor,red), bibit, pupuk, racun rumput dan ongkos tenaga kerja.

“Kita minta agar Pemerintah membantu petani jagung di Karo meningkatkan produksi dengan mekanisasi pertanian jagung. Sebagai contoh untuk mengatasi musim kemarau dapat dibuat bak penampung air dan juga sprinkler untuk menyemprot tanaman jagung,” ujarnya.

Sementara itu menurut pihak Dinas Pertanian Kabupaten Karo, untuk mencegah rusaknya tanaman jagung di musim kemarau sudah dilakukan sosialisasi intervensi agar petani menggunakan pupuk organik dan tungkul jagung agar tidak dibakar.
“Kalau kemarau itu kan memang kehendak alam. Kita juga sudah pernah mengatasi dengan menggunakan penyiraman menggunakan mobil damkar (pemadam kebakaran. Namun hal itu juga kurang efektif, sebab tidak semua dapat terjangkau,” terang Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Sarjana Purba.

Menurutnya, pembakaran tungkul jagung pasca panen juga berdampak terhadap matinya mikroorganisme yang dapat menguraikan pupuk. Dengan tidak membakar tungkul dan mengutamakan pupuk organik dibanding pupuk kimia, dampak kekeringan akibat kemarau mungkin dapat lebih diminimalisir. (sipayo) 
Post a Comment

Post Top Ad