DR. Ir Takal Barus Ilmuan Karo Yang Terabaikan - KARO GAUL

Karo Gokil

Post Top Ad

25 August 2017

DR. Ir Takal Barus Ilmuan Karo Yang Terabaikan


Riong Medan - DR. Ir Takal Barus AK3, adalah salah satu sosok yang tidak begitu familiar di tengah masyarakat umum. Maklum, Alumnus Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 1974 ini bukanlah seorang Politikus yang akhir-akhir ini banyak disorot media massa lalu membuatnya mendadak terkenal.

Atau, bahkan seoang pejabat negara yang duduk di singgasana kekuasaan dan selalu dekat dengan para awak media. Tetapi, dialah individu yang visioner dalam bidang keilmuan. Meski usianya sudah ‘senja’ namun bila bicara soal temuan, Takal Barus merasa seperti berada pada usia muda.

Salah satu karya terbaik dari putra Karo yang lahir 74 tahun silam di Tiga Dolok, Kecamatan Silau Barus, Kabupaten Simalungun ini adalah peningkatan suhu uap Superherater Boiler dari temperatur 260 0 C (derajat celsius) menjadi 320 0 C atau yang disebutnya Super 320 triple peak.

Temuan ini sekaligus menegasikan standard norma dunia dalam pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) Kepala Sawit (PKS) dengan suhu 220 0 C-2550 C yang diberlakukan sejak tahun 1903-1985 (Syarat World Bank).
Namun, pada tahun 1989 Kakek dari sembilan orang cucu ini berhasil menemukan teknologi baru yang mampu meningkatkan produkstifitas pengolahan TBS di PKS hingga 35 % (persen).


“Tahun 1965 Indonesia menemukan adanya Serangga Penyangga Kepala Sawit (SPKS) sehingga terjadi lonjakan tanaman hingga 29, 95 %. Akan tetapi, perkembangan tanaman itu tidak diikuti dengan perkembangan teknologi untuk mengolahnya. Alhasil, banyak buah Kelapa Sawit yang dibakar menjadi sampah,”kata Takal kepada SumutPublish.com baru-baru ini di Rumahnya.

Pada tahun 1989, DR. Ir Takal Barus berhasil menciptakan teknologi baru dan merombak sistem suhu kerja ketel standard norma Dunia. Temuan ini pertama kali dicobanya di Pabrik PTP VII, Gunung Meliau, Kalimantan Barat. Hasilnya terjadi peningkatan produksi hingga 35%.

“Karena terjadi peningkatan Produksi, tentu buah Kelapa sawit yang tadinya dibakar itu tidak lagi dibakar, tetapi diolah menjadi CPO (Crude Palm Oil),”ujarnya.

Selain adanya peningkatan produksi, kualitas CPO yang dihasilkan juga sangat terjamin dengan kandungan Beta karotein 505 Part per million (ppm). Sebab, Steam (uap bekas) yang dikeluarkan oleh turbin uap dengan temperatur 200 0 C dapat digunakan kembali untuk proses pengolahan (perebusan) TBS dengan menciptakan kondensor (disesuaikan dengan kebutuhan) untuk mempertahankan mutu CPO.

“Beta karotein yang dibutuhkan tubuh manusia itu minimal 500 ppm. Dibawah 500 ppm akan berubah menjadi penyakit seperti Kanker, Jantung, Kolesterol, Kolera Mata dan Struk. Tekonologi yang saya temukan ini menghasilkan 505 ppm Beta karotein. Ini sekaligus mengalahkan teknologi milik negara tetangga kita Malaysia yang hanya mampu menghasilkan 502 beta karotein,”sebutnya.

Takal menyebut, saat ini banyak minyak goreng di pasar yang hanya mengandung 450 ppm Betakarotein. Tentu, dengan kandungan Beta karotein yang minim itu sangat membahayakan kesehatan manusia yang menggunakannya.

“Itu sebabnya, harga minyak goreng didalam negeri nilainya lebih murah dibandingkan dengan minyak goreng yang di produksi Negara tetangga kita Malaysia. Harganya sangat jauh berbeda, atau coba kalian cari tahu sendiri harganya di pasaran saat ini. Lalu bandingkan dengan harga produksi lokal dan mengapa bisa ada perbedaan? Dan apa yang membedakannya?,”terangnya.

Takal menyebut, setiap perusahaan yang memproduksi minyak goreng diyakininya sudah faham dan tau kualitas minyak yang dijualnya. Namun, karena demi uang semua cara akan dilakukan. “Iya, itulah jahatnya uang itu. Siapapun bisa terkontaminasi, bahkan harus mengorbankan nyawa manusia pun akan dilakukan hanya demi uang.

Dijelaskan Takal, selain meningkatkan produktifitas PKS, temuannya itu juga meningkatkan efisiensi pengeluaran. “Jika mengacu pada standard norma dunia, setiap PKS setidaknya membutuhkan 432.000 liter Bahan Bakar Minyak (BBM) per tahunnya. Kemudian, cangkang TBS akan selalu habis dipergunakan.

“Energi terbarukan PKS 30 ton TBS/Jam, bila diolah 300.000 ton TBS/tahun dan randemen cangkang sebanyak 7% dari 300.000 ton hasilnya 21.000 ton cangkang dengan nilai bahan bakar 3000 k.kal hingga 6000 k.kal/Kg. Jumlah PKS di Indonesia mencapai 650 lebih. Maka dapat dihitung 650×3000 ton/tahun x (dikali) 7% sama dengan 13.650 ton per tahun jumlah cangkang dengan HV 6000 k.kal/Kg, Batubara Hv 4000 k.kal/Kg. Pada tahun 1995 berdasarkan hasil analisa dari Ebara Coorporation dari Jepang dan instruksi menteri pertanian yang mengevaluasi Pabrik Gunung Meliau (percobaan) menghasilkan keuntungan senilai senilai 2.750.000.000 dolar Singapura per tahun. Kajiannya itu,”jelas takal.

Namun keberhasilan ilmuan anak negeri ini, ternyata tidak langsung mendapat respon baik dari pemerintah, Jalan terjal menuju negara yang makmur ibarat pepatah, masih jauh panggag dari api. Penemuannya itu justru banyak dipalsukan, bahkan disalahkan dan digulirkan ke Pengadilan.
“Aku menemukan, aku ditipu akupula dilaporkan, ini sungguh miris dan menyayat hati, di pengadilan bukan keadilan yang kudapat,”ucapnya dengan sedikit menitikkan air mata.
Bersambung…
(sumutpublish.com) 

Post Top Ad