Ninoy Karundeng : Monumen SBY dan Prabowo dalam Kinerja Presiden Jokowi - KARO GAUL

Karo Gokil

Post Top Ad

12 August 2017

Ninoy Karundeng : Monumen SBY dan Prabowo dalam Kinerja Presiden Jokowi


Sejak 2014 Prabowo dan SBY menerapkan strategi politik putus asa, ala politikus paria. Ini mereka terapkan untuk menghadapi kekuatan perubahan pembangunan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi. Pola perlawanan mereka benar-benar meniru gaya strategi politik oposisi absolut di Amerika Serikat. Banyak orang tidak memahami alasan mereka yang menjadikan mereka sebagai oposan total. Latar berlakang pribadi mereka yang membuat mereka bertingkah-polah aneh seperti itu. Mental kasta paria menghantui mereka.

Kubu Prabowo dan SBY ini dengan cerdas menggunakan medsos untuk menjual status quo. Media menjadi alat komunikasi memertahankannya. Dengan dukungan dana luar biasa besar, dengan stretegi runut dan penuh perhitungan mereka bergerak dengan PR yang menusuk. Efektif. (Namun, pada saatnya mereka akan dihantam dengan strategi pula yang akhirnya akan memurukkan diri seperti pada pilpres 2014. Pendukung Presiden Jokowi tak akan tinggal diam meski dengan sifat sukarela.)

Kegagalan Prabowo sebagai Monumen
Prabowo yang berkali gagal menjadi capres dan wapres Indonesia, terakhir mengalami pukulan telak: kalah dari tukang mebel, Gubernur Jokowi. Dia yang merasa di atas angin karena dukungan mayoritas partai 64% dari suara nasional. Kegagalan pilpres 2014 ini sangat menyakitkan secara politik dan pribadi.

Situasi seperti itu dikompori lagi oleh lingkarannya yang mencontek gaya politik Barat sebagai oposan total: Amerika Serikat. Sinyal meniru politik segregasi, memecah-belah, polarisasi itu sudah ada sejak UU MD3 diterapkan oleh SBY.

Itu payung hukum jahat untuk berjaga agar pola oposisi polarisasi putus asa bisa dilaksanakan. Bahkan di Amerika Serikat saja pemenang pemilu otomatis menjadi Speaker atau Ketua DPR atau Senat. SBY dan komplotannya, termasuk Prabowo, menyingkirkan PDIP dari posisi Ketua DPR dan MPR.

Strategi ala Fadli Zon yang dengan tegas menginginkan status quo 5 tahun pendukung Prabowo berhasil. Fadli bertindak sebagai dirijen dan kepala komunikasi publik alias PR. Sampai detik ini mereka gagal move on dan masih segar di ingatan mereka tentang kegagalan Prabowo. Mereka dibuat tidak bisa dan tidak boleh melupakan monumen kegagalan itu.

Cara yang ditempuh adalah dengan tidak menghargai apapun yang terkait dengan Presiden Jokowi. Jangankan prestasi, hanya kancing bajunya saja dikomentari. Pembangunan dan kinerja hebat dicari celah untuk dicaci. Pemelintiran berita pembangunan dilakukan. Kesederhanaan dianggap ndeso. Presiden dijadikan bahan olok-olok.

Akhlakul karimah, sopan-santun ketimuran, peradaban Indonesia yang ramah hilang ditelan oleh kebencian yang sengaja dibangun demi kekuasaan. Sikap toleran diubah menjadi intoleransi dalam semua lini. Agama, suku, ras, dan antar golongan ASRA bahkan dijadikan alat memecah-belah.

(Maka patung saja diprotes. Patung dianggap berhala yang mengganggu iman dan ketakwaan kepada tuhan golongan lain. Aneh. Patung dianggap budaya impor. Lah manusia Indonesia semua kita juga produk impor.

Semua agama dan keyakinan adalah produk impor, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, dan Sikh. Agama Sunda Wiwitan, Kejawen, agama Batak, yang digadang produk peradaban lokal tak lain adalah bersumber pada Bhagavad-gita, sebagaimana semua agama di Bumi.)

Kebablasan mencaci,  para pendukung Prabowo akhirnya secara strategis dan konstitusional satu demi satu diciduk. Namun itu tidak menjadi alat cegah sama sekali mereka kendor dukungan kepada Prabowo. Penyebabnya adalah penanaman personal grudge alias kemarahan personal kepada mereka.

Itu sengaja dibuat dan dipertahankan dengan komandan Fadli Zon dan ditambah Fahri Hamzah serta bocah lucu, cerdas nan menggemaskan Habiburahman.

Maka dalam diri para pendukung Prabowo dan kawan-kawan timbul dan berhasil membangun memori monumen kegagalan. Itu energi negatif yang dijadikan alat sebagai energi untuk menghadapi Presiden Jokowi. Kegagalan Prabowo sebagai monumen pengingat yang tak boleh dilupakan. Ini membuat Prabowo merasa masih kuat. Hanya perasaan doang. Aslinya rapuh. (Ada strategi cerdas untuk menghantam manusia rapuh yang megalomania ini tentu.)

SBY sebagai Monumen Kegagalan
Gagal menjadi orang berpengaruh, SBY menjelma menjadi manusia galau. Main setengah kaki mendukung Prabowo, namun setengahnya banci alias tidak jelas ke mana arahnya, menjadi kegagalan menumpuk baginya.

Dia gagal membangun dan berbuat selama 10 tahun, namun malah justru menjadi alat para mafia Petral bermain. Ingat, dia mengumpulkan para dirjen dan para petinggi BUMN yang dia angkat selepas dia kehilangan jabatan. Tujuannya sekarang bisa dilihat: pembangkangan kinerja alias resistensi atas perubahan.

Pun Presiden Jokowi susah mencopot ribuan orang direksi dan pimpinan BUMN karena terbentur aturan, direksi hanya bisa dicopot setelah masa 2 tahun. Untung pucuk pimpinan dipegang oleh Rini Soemarno yang tahu seluk-beluk kebobrokan. Ini yang membuat Rini Soemarno diguncang-guncang.

Publik hanya tahu dan diarahkan untuk mengecam Rini Soemarno sebagai antek kapitalis dll. Padahal sesungguhnya, pembongkaran itu dilakukan dari dalam untuk melawan resistensi para orang SBY di BUMN.

Praktis masa 10 tahun tinggal kenangan kegagalan. Dia sama sekali tidak ada prestasi. (Hanya kereta api saja yang hebat karena Igantius Jonan.) Namun keanehan muncul dalam dirinya. Manusia ini tidak ingin borok dan kebusukan pembangunan diungkap oleh Presiden Jokowi. Anehnya lagi, bukannya memberikan kontribusi dan mendukung perbaikan, malah dia hendak mendelegitimasi kekuasaan, pencapaian, dan kinerja Presiden Jokowi.

Kegagalan 10 tahun hendak diputar menjadi keberhasilan. Maka safari melawan kinerja Presiden Jokowi dilakukan oleh SBY di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dia hendak menunjukkan popularitasnya. Dia ingin pamer rakyat masih suka padanya. Dia ingin rakyat mencemooh penghapusan subsidi. Dia tunjukkan BLT sebagai pencapaian, prestasi. Kelilinglah dia dengan gembar-gembor atas nama partai.

Dengan gampang Presiden Jokowi memosting monumen Candi Hambalang yang merugikan rakyat Rp 2 triliun lebih. Cep klakep, mingkem. Mulut SBY terbungkam hanya dengan foto Presiden Jokowi di Candi Hambalang. Setelah itu maka muncul ratusan proyek mangkrak yang merugikan rakyat.

SBY tetap tidak kapok. Dia tampil lagi membantu yang aneh, Anies. Bagi dia, Presiden Jokowi tak layak didukung. Dengan berkolaborasi dengan Islam radikal, FPI, HTI, dll., dia yang gagal mendudukkan Agus jadi gubernur, kembali berulah di Pilkada DKI.

Dia adalah provokator terkait kasus Ahok. Dia berteriak kesetanan menuntut keadilan bagi Ahok. Namun dia gagal berteriak untuk anak didik dan asuhnya Rizieq yang menghina Pancasila dan kasus chat mesum. Harapannya kalau Agus gagal yang penting bukan teman Presiden Jokowi yang menang. Otak licik politik khas dia.

Perrpu Ormas radikal yang menghantam HTI dan UU Pilpres yang mengebiri strategi pecah belah yang akan dipraktekkan di Pilpres 2019. Dengan Agus sebagai calon presiden. Merasa gagal, maka dia bersama sesama manusia megalomania Prabowo, membangun koalisi. Namun ini juga berat. Strategi memecah suara kehilangan alat. Pusing.

Maka, demi melaksanakan komporan lagi, jelang pelaksanaan demo gerombolan 212, para kaum radikal dan intoleran serta Islam radikal, pada 28 Juli 2017. Dengan berapi-api SBY dan Prabowo mengompori para calon pendemo.

Dia menuduh dan menyindir Presiden Jokowi sebagai abuse of power, lalu cross the line, lalu power must not go unchecked dan sebagainya. (Ngomong gaya-gayaan, sok pintar, sok inggris-inggrisan padahal inggrisnya juga pas-pasan, padahal prestasi kinerja nol.) Padahal sejatinya dia kecewa berat secara pribadi karena tidak bisa mengusung anaknya, si Agus. Untuk kepentingan diri dan keluarga.

Maka melihat pembangunan hampir tiga tahun pemerintahan Presiden Jokowi, SBY berusaha untuk tidak melihatnya masuk ke masa jabatan kedua. Semakin lama Presiden Jokowi memerintah, makin menunjukkan semakin banyak monumen kegagalan baik berupa proyek maupun kebijakan yang menguntungkan kroni, antek dan mafia zaman SBY. Presiden Jokowi hanya akan menjadi penunjuk kegagalannya selama 10 tahun.

Oleh karena itu, SBY hanya akan berkolaborasi, bekerjasama dengan para pihak selain Presiden Jokowi. Maka aliansi kekuaatan yang akan dirangkul ya kalangan Islam garis keras seperti FPI, HTI, dengan kampanye model Pilkada DKI. Lain bukan, itu semua karena dalam dirinya tidak mengalir darah kenegarawanan sama sekali. Dia hanyalah kelas politikus sudra atau paria dalam kisah Ken Arok, pendiri Kerajaan Singasari.

Presiden Jokowi Menuai Dukungan
Kondisi politik yang semakin berubah, dukungan berbagai pihak ke Presiden Jokowi mengalir. Meski dukungan tidak selamanya menguntungkan. Namun kasat mata dukungan itu menghantam hati dan jiwa Prabowo dan SBY. Kepentingan mereka dan sisa rezimnya bakalan hilang perlahan.

Dukungan yang disokong oleh kinerja semakin membuka mata publik. Serangan pribadi hanya akan menjadi bahan perlawanan dan tertawaan pada saatnya. Strategi komunikasi ditata secara strategis dan tidaks sporadic. Ahli komunikasi massa, para ahli di bidang, IT, jagoan political and campaign strategy baik di medsos dan kaitan dengan strategi para partai bekerjasama.

Itu yang harus dihadapi oleh SBY dan Prabowo akibat gaya dan strategi politik yang didasari oleh kepentingan dan hasrat serta perasaan pribadi mereka. Mereka mengatasnamakan rakyat namun tak ada satu pun wujud peduli kepada rakyat. Itu ciri politik kaum paria, politikus paria yang tidak bernilai meski di mata kaum paria sekali pun.

Dan, Presiden Jokowi beserta pendukungnya pun akan tetap menghantam maneuver SBY dan Prabowo. Caranya salah satunya adalah dengan menunjukkan kinerja pencapaian pembangunan di seluruh Indonesia. Yang pada saat bersamaan, otomatis, menunjukkan kegagalan SBY.

Para pendukung Presiden Jokowi ingin agar dua monumen kegagalan mereka tetap lestari. SBY dan Prabowo akan melihat Presiden Jokowi dua periode. Pun dengan Presiden Jokowi menjadi presiden RI dua periode akan menenggelamkan politik SBY dan Prabowo selamanya, dari dunia sampai akhirat kelak. Allahuma amin. Salam bahagia ala saya.
Post a Comment

Post Top Ad